rayuan
17 februari 2006 // 4:23 p.m.

~selingan
R A Y U A N
oleh: Nadya Karimasari

Abstrak

Dalam komunikasi interpersonal intim, dikenal konsep ‘rayuan’. Secara spesifik, konsep tersebut memegang peranan penting dalam menjalin hubungan asmara, utamanya dalam pengekspresian perasaan cinta dan kasih sayang. Secara luas, dalam konteks kehidupan bermasyarakat, ‘rayuan’ dapat menjadi bentuk halus dari dominasi. ‘Rayuan’ menjadi strategi yang bersifat sangat hegemonik dalam menjaga bertahannya status-quo. Ia menjadi ‘pengaruh memaksa’ yang tersamar dan tanpa disadari menjelma menjadi sesuatu yang tak tertolak. Keberlangsungan ‘rayuan’ menunjukkan pemetaan atas relasi kuasa yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai sebuah praktik, ‘rayuan’ tak terlepas dari konteks dan pemaknaan. Diskursus ‘rayuan’ mencerminkan pewacanaan mengenai konstruksi realitas itu sendiri. Pada level mikro maupun makro, interaksi dan intensitas ‘rayuan’ mengingatkan pada keterbatasan manusia bahwa ‘realitas’ tak lebih dari sekedar manipulasi yang tak sepenuhnya-seutuhnya terpahamkan.


“Everything is seduction and nothing but seduction... To seduce is to die as reality and reconstitute oneself as illusion.” (Baudrillard, 1979).
Menurut Jean Baudrillard dalam bukunya yang berjudul “De la séduction” (diterjemahkan oleh Brian Singer, “Seduction”, New York: St. Martin’s Press), ‘rayuan’ ada dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai dari rayuan seks, sampai rayuan untuk mempertahankan order-order dalam masyarakat. Segala sesuatu adalah simbol atau tanda, padahal ‘rayuan’ dimaknai sama dengan tanda yang digeser dari pemaknaannya karena diberi ‘nilai rasa’ yang nikmat dan menyenangkan. Oleh karena itu, kehidupan sesungguhnya tak bisa terlepas dari ‘rayuan’.

Lingkaran ‘rayuan’ senantiasa bereproduksi bahkan tereduksi ke dalam bentuk-bentuk perulangan yang mekanistik. Merujuk pada teori genealogi Walter Benjamin mengenai seni, rayuan dapat digolongkan ke dalam tiga tahapan. Semula statusnya ialah sebagai objek ritual, kemudian beranjak pada bentuk kultural atau estetis dengan tingkat kewajiban yang lebih sedikit, dan terakhir ia menjelma menjadi sebentuk mekanisme politik yang melibatkan relasi kuasa dalam pelaksanaannya. ‘Rayuan’ menjadi senjata ‘penakluk’ yang lebih ampuh daripada pedang, sebab secara mendasar ia memformulasikan hubungan antarmanusia dan juga tatanan-tatanan dalam masyarakat,.

‘Rayuan’ sebagai permainan simbol, secara mikrososiologis dapat ditelaah melalui paradigma interaksionisme simbolik. Teoritisi interaksionisme simbolik memusatkan pada dampak dari makna dan simbol terhadap tindakan dan interaksi manusia. Simbol dan arti memberikan ciri-ciri khusus pada tindakan dan interaksi sosial manusia. Dalam hal ini, berlaku prinsip aksi-reaksi.

George Herbert Mead mencoba menjelaskan melalui identifikasinya terhadap empat basis dan tahap tindakan yang saling berhubungan secara dialektis dalam kesatuan organik. Keempat tahap itu adalah: impuls, persepsi, manipulasi, dan konsumasi. Impuls adalah dorongan hati yang meliputi stimulasi atau rangsangan spontan yang berhubungan dengan alat indera dan reaksi aktor terhadap rangsangan itu. Persepsi adalah saat aktor menyelidiki dan bereaksi terhadap rangsangan yang berhubungan dengan impuls. Sebuah rangsangan mungkin memiliki beberapa dimensi dan aktor mampu memilih di antaranya, mana yang perlu diperhatikan dan mana yang patut diabaikan dalam pemahaman mereka. Manipulasi muncul setelah impuls menyatakan dirinya sendiri dan objek telah dipahami. Yang dimaksudkan dengan manipulasi adalah mengambil tindakan berkenaan dengan objek tersebut. Terakhir adalah konsumasi, yakni berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang ada, aktor mengambil tindakan yang memuaskan dorongan hati yang sebenarnya (Ritzer & Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Kencana, 2004).

Teori tersebut menghadirkan dimensi otoritas manusia selaku aktor untuk memilih, sehingga ia tidak hanya terjebak dan berkubang dalam jeratan ‘rayuan’. Namun, berdasarkan paradigma strukturalisme, otoritas manusia tersebut adalah semu. Manusia tak pernah benar-benar memiliki kewenangan untuk memilih secara otonom, sebab manusia tak pernah terlepas dari jaring-jaring makna dalam konteks sosial.

Dalam menginterpretasi simbol yang terkandung dalam ‘rayuan’, diperlukan kesamaan pemaknaan terhadapnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sama halnya ‘rayuan’ melakukan segala cara untuk menjadikan orang ‘percaya’. Padahal, simbol tak lain adalah sebentuk representasi. Kenyataan tak pernah benar-benar hadir, melainkan dimunculkan melalui geliat-geliat representasi. Oleh karena itu, sangat absurd jika manusia mempercayai secara seutuhnya-sepenuhnya, kalau tidak bisa dibilang naif.

Kesadaran dan kepekaan mengidentifikasi ‘rayuan’ dalam segenap aspek kehidupan diperlukan untuk mewaspadai realitas sebagai sebuah konstruksi. Realitas yang ditampilkan melalui representasi-representasi mengisyaratkan terjadinya pertarungan wacana antara pola-pola relasi kuasa yang ada, baik melalui cara-cara yang ‘halus’ seperti ‘rayuan’, maupun cara-cara lainnya.

|

last entrynext entry


happiness is a warm gun