imogiri9
5 agustus 2006 // 5:47 p.m.

lanjutan...


IV.5. NILAI-NILAI SEJARAH YANG MEMBERI INSPIRASI
Makna lain yang masih dirasakan oleh narasumber adalah nilai-nilai kesejarahan yang ditunjukkan dengan Makam Imogiri. Warga jadi tahu tentang Raja mereka yang bernama Sultan Agung dan raja-raja lainnya. Mereka bisa meneladani sifat-sifat baik raja, juga menghindari sifat-sifat buruk raja yang lain.

Mereka ikut pula mengingat apa yang telah dilakukan oleh Kompeni (Belanda/penjajah). Betapa Kompeni melakukan segala cara untuk kepentingannya sendiri, termasuk dengan memecah-belah kerajaan-kerajaan kuat di Indonesia, sehingga kerajaan-kerajaan tersebut menjadi tidak bergigi dan mudah dilumpuhkan.

Mengenai pengkhianatan, kata narasumber, nama Pakualam dan Pakubuwono tidak harum. Sebenarnya Pakualam dan Pakubuwono termasuk pengkhianat. Yang memberi kekuasaan pada mereka adalah Kompeni, untuk mengawasi Kasultanan agar tidak berbuat macam-macam kepada Kompeni. Mereka adalah antek Kompeni yang mengkhianati kasultanan dengan menjadi mata-mata. Demikianlah, sifat haus kekuasaan menjadikan mereka tidak peduli dengan perjuangan bangsa. Sifat hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri inilah yang harus dijauhi, juga pada masa kemerdekaan seperti sekarang. Namun, pada kenyataannya masih banyak sifat-sifat seperti itu, terutama ditunjukkan oleh koruptor negeri ini. Demi kepentingan mereka masing-masing mereka tidak peduli memakan uang rakyat. Padahal rakyat banyak yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Narasumber menyebut para koruptor itu juga pengkhianat.

|

last entrynext entry


happiness is a warm gun