domestifikasi_perempuan
24 maret 2006 // 4:08 p.m.


aku paling ga ngerti deh kalo soal gender...

korban #12: keluarga

Kramer vs. Kramer
Tinjauan Relasi Gender dalam Keluarga
oleh: Nadya Karimasari

Lama, Mrs. Kramer termenung memandangi anaknya yang berangkat tidur. “Aku menyayangimu, nak,” ujarnya secara bersungguh-sungguh. Anaknya pun menjawab, “Sama-sama, Bu. Sampai jumpa besok.” Ia tak menyangka bahwa itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang ibu.


Masalah Keseharian

Demikianlah secuplik adegan awal dalam film ‘Kramer vs. Kramer’ yang dibintangi secara cemerlang oleh Dustin Hoffman dan Meryl Streep. Film yang meraih banyak penghargaan ini menggambarkan kehidupan sebuah keluarga di kota besar beserta segala pemaknaannya. Pengisahannya mencoba menyampaikan masalah-masalah gender yang secara nyata dihadapi dalam keseharian. Ia berhasil memotret isu-isu tersebut secara wajar, seolah-olah masyarakat yang menontonnya dapat merasa terwakili dengan pikiran dan perasaan yang dikemukakan oleh tokoh-tokohnya.

Keluarga itu adalah tipikal keluarga kecil di perkotaan negara maju. Suami, istri, dan seorang anak tinggal dalam apartemen yang tinggi dan tertutup. Hubungan antartetangga sangat renggang, bahkan bisa dibilang tidak terjalin sama sekali. Ayah sebagai kepala keluarga mati-matian membanting tulang demi pekerjaannya, sedangkan ibu harus meninggalkan pekerjaan yang pernah dilakoninya sebelum menikah. Segala urusan rumah tangga dan anak menjadi tanggung jawab sang ibu.
***


Malam itu, seperti biasa Mr. Kramer pulang larut dari kantornya. Sebenarnya ia membawa berita gembira untuk istrinya. Lemburnya selama enam bulan membuahkan hasil. Akhirnya atasannya mempercayakan sebuah jabatan penting kepadanya. Namun apa lacur, malam itu juga Mrs. Kramer sudah membulatkan tekad untuk pergi dari rumah, meninggalkan anaknya juga.

Keputusan berat itu diambilnya setelah enam tahun menahan perasaan tertekan. Sebelum pergi, ia menjelaskan daftar pekerjaan rumah yang harus dikerjakan serta kunci-kunci pintu dan peralatan lain yang diperlukan. Tak lupa ia menjelaskan bahwa ia mengambil uang tabungan sebanyak uang yang dimilikinya sebelum mereka menikah. Kemudian dengan menjinjing tas kecil dan koper besar berisi pakaian seadanya, ia pamit hendak pergi dan tak kembali.

Tentu sikapnya menimbulkan pertengkaran hebat dengan suaminya, di lorong apartemen. Bahkan ketika suaminya melarangnya pergi, ia bersumpah bahwa jika suaminya berani-berani menyuruhnya masuk kembali ke rumah itu, ia akan loncat dari jendela. Rupanya ia benar-benar tidak berbahagia di rumah itu. Tertinggalnya koper miliknya di lorong apartemen tetap tidak menghentikan niatnya, sehingga ia pergi hanya berbekalkan tas jinjingnya.

Perbuatan nekat itu semula tidak dianggap serius oleh Mr. Kramer. Menurutnya, paling-paling sebentar kemudian istrinya pulang dan keadaan akan menjadi seperti biasa lagi. Toh, selama ini ia merasa segalanya baik-baik saja. Justru dialah yang seharusnya tidak bahagia karena pekerjaanya menuntut usaha ekstra keras. Istrinya hanya dilihat sebagai seorang yang mencintainya dan begitu pendiam, pengalah, penurut. Dia pikir, seharusnya sebagai ibu rumah tangga istrinya merasa beruntung karena tidak perlu melakukan pekerjaan yang berat.


Perbedaan yang Belum Dimengerti

Penggalan kisah di atas membawa kita masuk pada tinjauan relasi gender. Masing-masing pihak merasa bagiannya lebih berat dan lebih tidak menyenangkan. Suami merasa beban bekerja di luar rumah jauh lebih berat dan menganggap enteng peran istri. Istri merasa beban di rumah tak kalah berat dan tak rela diremehkan. Benarkah perempuan harus mengurusi sektor domestik saja, demi mendukung pekerjaan suami? Berhakkah Mrs. Kramer sebagai seorang perempuan berpikir, merasa, dan bertindak demikian?

Salah satu isu utama dalam perbincangan mengenai gender adalah masalah keterlibatan perempuan dalam sektor publik. Sampai sekarang angka perempuan yang terjun di sektor publik masih rendah, apalagi jika dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dipandang sebagai penindasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Entah secara langsung atau tidak, dunia ini menjadi dunia yang didominasi atau dikuasai laki-laki (male-dominated world).

Ada yang melihat bahwa rendahnya angka tersebut berkaitan dengan keharusan perempuan untuk mengurus sektor domestik alias rumah tangga. Pepatah Jawa bahkan mengatakan bahwa perempuan adalah kanca wingking (teman di belakang) yang pekerjaanya hanya macak, manak, lan masak (berdandan, beranak, dan memasak). Lebih parah lagi, perempuan dianggap sebagai makhluk yang sangat tergantung kepada laki-laki, sesuai dengan pepatah "suarga nunut neraka katut" (jika suami masuk surga, istri ikut; jika suami masuk neraka, istri ikut pula).

Umumnya perempuan dan sektor domestik dianggap sebagai dua hal yang tak terpisahkan. Wajar bila perempuan tidak banyak berkiprah dalam sektor publik, karena sektor domestik seolah dilihat sebagai kodrat perempuan yang tak terhindarkan. Peran di sektor domestik ini menjadi batasan tersendiri bagi perempuan. Sebaliknya, laki-laki dianggap tabu mengerjakan pekerjaan rumah, karena adalah suatu aib jika ia tidak menafkahi keluarganya. Ia terbebas dari tanggung jawab domestik dan leluasa untuk mengembangkan diri di luar rumah. Pandangan-pandangan semacam ini melanggengkan pembedaan peran antara perempuan dan laki-laki. Pertanyaannya adalah, begitukah kodrat yang dimaksud?


Kodrat atau Konstruksi

Kodrat manusia secara seksual pria dan wanita berbeda. Hal ini menyangkut perbedaan fisik dan biologis, termasuk hormon. Fungsi tubuh berbeda. Hanya perempuan yang bisa mengandung, melahirkan, dan menyusui. Laki-laki tidak bisa. Namun, apakah perbedaan biologis ini mempengaruhi perbedaan peran dalam masyarakat? Hal ini masih terus menimbulkan perdebatan yang mengarah pada posisi mendukung atau menolak pembagian kerja secara seksual.

Edward Thordike (1914) percaya bahwa walaupun diberi lingkungan sosialisasi yang sama, secara alamiah kemampuan laki-laki dan perempuan tetap akan berbeda. Demikian pula Darwin. Perempuan lebih lambat daripada laki-laki, otot-ototnya lebih kecil, perbedaan hormon menyebabkan perempuan bersifat lebih feminin sedangkan laki-laki lebih agresif. Kemampuan intelektual pun berbeda antara laki-laki dan perempuan karena otak perempuan lebih kecil.

Pernyataan terakhir telah terbukti tidak benar. Teori ini disanggah dengan mengatakan bahwa perbedaan peran tersebut tidak bersifat genetis, melainkan dibentuk masyarakat sehingga bisa diubah. Faktor biologis berinteraksi dengan budaya sehingga terinstitusionalisasi. Peran-peran dan sifat-sifat feminin serta maskulin adalah akibat sosialisasi masyarakat.

Arief Budiman mengatakan penyebab pembagian kerja secara seksual tidaklah tunggal. Penyebab itu tidak sama dari zaman ke zaman, atau dari masyarakat satu ke masyarakat lain. Ia setuju dengan pendapat Friedl bahwa penyebab pertama dari pembagian kerja secara seksual adalah karena wanita pada zaman dulu lebih penting daripada laki-laki. Tapi penyebab itu sekarang sudah hilang. Pembagian kerja secara seksual sekarang didukung oleh penyebab-penyebab lain, antara lain karena adanya kelompok-kelompok manusia yang diuntungkan dengan adanya pembagian kerja ini. Perdebatan kodrat atau konstruksi semakin tidak menghasilkan apa-apa. Diperlukan lebih banyak penelitian di lapangan.

Golongan masyarakat yang kerap menggugat wacana-wacana gender, seperti masalah kodrat atatu konstruksi di atas, biasanya adalah golongan feminis. Walaupun memiliki keanekaragaman, pada dasarnya mereka berangkat pada pemahaman yang sama, yaitu adanya ketidaksetaraan gender. Berbagai aliran feminisme antara lain feminisme liberal, radikal, sosialis, marxis, teologi feminis, maupun ekofeminisme, masing-masing mempunyai perbedaan dalam penyikapan terhadap isu-isu gender.


Aktualisasi Diri

Paham-paham besar seperti feminisme yang mencoba menyelesaikan segala permasalahan secara drastis tak selamanya cocok dengan kenyataan di lapangan dan kehidupan keseharian. Sebagai contoh, kembali pada kisah keluarga Kramer, ternyata sang suami sadar bahwa pekerjaan domestik dan mengurus anak tidaklah semudah yang ia bayangkan. Selama ini ia terlalu meremehkan dan kurang menghargai peran istrinya. Keterlibatannya dalam proses pengasuhan anak membuat ia menikmati perannya sebagai ayah, peran yang selama ini ia abaikan. Bahkan, ia kerap meninggalkan tanggung jawab di kantor untuk mengutamakan kepentingan anaknya.

Karier yang dulu ia anggap merupakan prioritas utama dalam hidup dan dikejar habis-habisan, kini terasa kurang penting. Yang penting adalah kebahagiaan anaknya. Perannya dalam mendidik, menemani, dan melihat anaknya tumbuh besar kini menjadi sumber kebahagiaannya. Ia merasa lebih bermakna dan bangga mengemban peran tersebut. Sampai-sampai, ia dipecat dari pekerjaan lamanya dan memulai lagi pekerjaan baru dengan gaji yang jauh lebih kecil. Ia rela.

Istrinya juga merasa bahagia dengan mengikuti kata hatinya. Ia mengekspresikan diri dengan berkarya di sebuah majalah. Inilah yang ia maksudkan dengan ‘aktualisasi diri’. Seperti selarik bunyi suratnya kepada sang anak ketika ia pergi dari rumah,”...Nak, terkadang dalam hidup manusia, ayah yang pergi ke luar dan ibu yang menemani anak-anak. Tetapi kadang-kadang ibu yang pergi. Sekarang ini ayah yang akan menemanimu. Ibu pergi mencari sesuatu yang sangat penting...” Atau dengarlah penuturannya di pengadilan perceraian dan memperebutkan hak asuh anak,”...selama ini aku selalu hanya merasa sebagai anak dari bapakku, istri dari suamiku, atau ibu dari anakku. Aku tidak pernah terlepas dari embel-embel hubunganku dengan orang lain. Seolah-olah aku hanya bermakna sebagai pelengkap orang lain. Aku jadi tidak tahu, diriku sendiri ini siapa? Apakah aku harus selalu tergantung kepada orang lain? Kurasa keadaan ini tidak bisa dibiarkan lagi. Aku memutuskan untuk mengikuti kata hatiku dan mengaktualisasikan diri. Therapist-ku mengatakan aku perlu melakukan suatu hal yang kreatif.”

Pernyataan tersebut menjelaskan pada Mr. Kramer hal-hal yang selama ini kurang ia mengerti. Mr. Kramer tidak paham apa yang menyebabkan sang istri pergi. Ia pikir ia sudah cukup baik sebagai seorang suami. Ia bekerja keras, bahkan amat keras, maksudnya demi keluarga juga. Ia tidak pernah memukuli istrinya. Ia bukan seorang alkoholik atau pecandu narkoba yang membahayakan keselamatan istrinya. Ia juga tidak pernah selingkuh. Namun yang dibutuhkan istrinya tidak ia ketahui. Istrinya tidak hanya membutuhkan materi atau keselamatan-keselamatan yang bersifat fisik lainnya.

Mungkin selama ini ia tidak mengerti karena ia menganggap dirinya sendirilah yang paling penting. Semua harus berpusat pada kepentingannya, yang lain hanyalah mengorbit di sekelilingnya. Istrinya hanya objek yang tidak pernah diajak berkomunikasi tentang diri masing-masing.

Pada akhirnya, ternyata Mrs. Kramer menganggap bahwa anaknya tetap sesuatu yang sangat berharga baginya. Membesarkan anak juga dilihat sebagi sarana baginya untuk mengaktualisasikan diri. Ini pertanda bahwa ia tidak bisa lepas dari anaknya. Kemudian, melihat kesungguhan suaminya dalam menjalin kedekatan dengan anak, ia pun kembali ke rumah, tetap dengan pekerjaannya yang penghasilannya lebih besar daripada sang suami. Pertimbangannya yang lain adalah suaminya sudah jauh lebih baik sekarang. Tidak lagi ambisius, egois, temperamental, atau hanya mengutamakan diri sendiri.

Semua itu tak akan terjadi jikalau ia tidak pergi dari rumah. Seperti kata pepatah, "mundur selangkah untuk maju dua langkah". Perlu tindakan berani untuk lepas dari penindasan.
***


Menurut Maslow, aktualisasi diri merupakan kebutuhan manusia yang paling puncak. Aktualisasi dirilah yang membuat seseorang merasa bermakna. Perasaan ‘bermakna’ tersebut mencegah kehidupan seseorang dari kehampaan. Bila seseorang merasa hampa dan hidupnya tidak bermakna, maka ia kurang menghargai dan menikmati hidup. Rasa tertekan mudah sekali muncul. Jiwa menjadi labil dan rentan terhadap goncangan. Kerentanan ini juga berakibat bagi lingkungan sekitarnya.

Setiap pribadi adalah unik. Setiap manusia mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengaktualisasikan dirinya. Dan, seharusnya hal ini tidak terkungkung oleh jenis kelamin.

Boleh saja seorang lelaki merasa dirinya lebih bermakna jika mengasuh anak, misalnya. Pada kenyataannya banyak laki-laki yang merasa hidupnya kurang bermakna lalu merasa menyesal, gara-gara mereka terlalu mengejar uang sehingga tidak bisa ikut terlibat dalam proses mendidik anak. Tahu-tahu anak sudah besar dan tidak terlalu mengenal ayahnya. Tahun-tahun yang berlalu menjadi hilang begitu saja, tanpa keakraban antara ayah dengan anak-istri. Dahulu dianggap seolah uang adalah segalanya dan selalu kurang. Ternyata tanpa kedekatan antara ayah dengan keluarga terdekatnya, semua uang dan jabatan dalam pekerjaan terasa kurang bermakna.

Yang perlu dilakukan untuk mewujudkan kesetaraan bukanlah memaksa perempuan (atau laki-laki) untuk keluar dari rumahnya, melainkan justru bagaimana agar pekerjaan yang ada – baik untuk laki-laki maupun perempuan – menjadi lebih manusiawi. Pekerjaan adalah sarana untuk manusia, bukan sebaliknya. Idealnya, pekerjaan harus bisa menghargai bahwa manusia punya keluarga dan butuh waktu untuk berinteraksi dengan keluarganya, juga orang lain. Dengan begini, baik perempuan maupun laki-laki dapat berkarya sekaligus tetap berkasih-sayang dalam keluarga dan bersosialisasi dengan masyarakat. Seperti di Jepang, perempuan bekerja sangat dihargai sehingga diciptakan alat-alat agar pekerjaan bergengsi bisa dikerjakan di rumah dengan waktu yang fleksibel. Namun, ini adalah isu kaum yang sudah mapan secara ekonomi.

Menurut Irwan Abdullah, ketimpangan gender tidak terjadi dalam masyarakat agraris. Selengkapnya dapat dibaca dalam buku ‘Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan‘. Hal ini membuktikan bahwa kesetaraan gender sangat terkait dengan pekerjaan, dan terlebih sistem perekonomian dan sistem sosial yang berlaku dalam pengorganisasian masyarakat.


Kesetaraan=Kompromi


Kesetaraan gender bukan berarti menggunakan standar dan nilai-nilai yang selama ini berlaku dalam the male-dominated world, melainkan menghargai dan menyadari pentingnya peran domestik, sama penting dengan peran publik, bukannya justru diberi label 'pengangguran' hanya karena tidak 'menghasilkan' secara finansial

Lelaki tidak bisa memaksakan perempuan untuk bergelut di sektor domestik jika sang perempuan merasa tertekan. Perempuan juga tidak bisa memaksakan laki-laki untuk mencari uang sebanyak-banyaknya sampai larut malam sehingga laki-laki kehilangan keakraban dengan anak. Demikian pula sebaliknya. Semua itu harus didasarkan pada kesepakatan yang setara dan tidak dominatif-subordinatif, sebab kenyataannya tidak ada yang bisa memenuhi keinginannya 100 persen. Jangan sampai salah satu pihak menganggap keinginannya harus dipenuhi seutuhnya, sehingga timbul pemaksaan terhadap pihak lain. Semua butuh pengorbanan. Semua harus berusaha untuk saling mengalah dan saling mengerti.

Sederhananya, relasi yang ada bisa menjadi setara bila mau dan mampu saling menghargai kebutuhan untuk aktualisasi diri pada semua pihak. Untuk itu, diperlukan kompromi dan penyesuaian terus-menerus. ‘Kesetaraan’ bukan berarti ‘sama’ atau ‘menghilangkan perbedaan’. Yang perlu diingat adalah, “sejatinya, semua orang mencari makna.”

|

last entrynext entry


happiness is a warm gun