nekolim
6 januari 2006 // 4:16 p.m.

korban # 8 koloni (neo)

Kapitalisme dan Nekolim
Oleh: Nadya Karimasari


Sudah jamak diketahui bahwa negara tidak mungkin beroperasi tanpa sokongan sumber daya yang mencukupi. DAlam sebuah buku berjudul 'Unholy Trinity' karya Richard Peet, disebutkan bahwa yang berkuasa di atas negara adalah trinitas yang maha tidak kudus (unholy trinity). Yang dimaksudkan adalah WTO, Bank Dunia, dan IMF. Ketiganya adalah lembaga yang tidak demokratis, sebab pengelolanya tidak dipilih sama sekali oleh rakyat dan tidak ada mekanisme kontrol terhadap lembaga-lembaga tersebut. Mereka memegang kendali soal pasokan 'nafas' bagi negara-negara di seluruh dunia melalui pengaturan ekonomi, baik soal tarif, perdagangan, maupun keuangan.

Begitulah kapitalisme mengambil alih kedaulatan rakyat (melalui negara-bangsa maupun secara langsung) lewat kanal-kanal 'globalisasi'. Ya, perbincangan mengenai negara-bangsa saat ini tak mungkin dilepaskan dari perbincangan mengenai globalisasi. Disebutkan bahwa kedaulatan negara akan terkurangi akibat mengaburnya batas-batas antar-negara. Jarak tidak lagi dianggap sebagai sebuah permasalahan berkat kemajuan teknologi transportasi maupun informasi. Globalisasi dianggap sebagai keniscayaan sejarah yang tak terelakkan.
Salah satu pandangan yang berbeda dikemukakan oleh Peter Marcuse ('Bahasa Globalisasi' dalam buku Globalisasi Perspektif Sosialis): globalisasi bukanlah sesuatu yang baru saja jatuh dari langit, namun merupakan satu bentuk khusus dari modalisme, sebuah ekspansi hubungan modalis baik dalam jangkauan secara geografis maupun yang merasuk ke dalam aspek-aspek yang semakin lama semakin banyak dari kehidupan manusia. Namun, dia mengatakan bahwa semakin menyebarnya sistem itu secara internasional justru meningkatkan peran negara ke bawah (maksudnya dalam merepresi rakyatnya) demi menjaga keberlangsungan kepentingan modalisme tersebut. Yang terjadi sesungguhnya adalah penyerahan kekuasaan negara, bukan melenyapnya kekuasaan negara tersebut. Bahkan konsep pemerintahan yang bersih (good governance) adalah suatu eufemisme (penghalusan bahasa-pen.) akan berkurangnya campur tangan negara dalam pasar.

Mekanisme relasi internasional saat ini menyeruakkan aroma penjajahan nonfisik atau neokolonialisme imperialisme (nekolim). Sebagai penjelasan, penjajahan dapat dibedakan menjadi dua. Yang pertama adalah penjajahan fisik, sedangkan yang kedua adalah penjajahan mental. Penjajahan fisik adalah penjajahan yang lebih menitikberatkan pada penguasaan terhadap wilayah atau teritori jajahan, di mana penjajah akan terlihat menduduki atau mengokupasi daerah yang dijajahnya. Penjajahan jenis kedua yakni penjajahan mental memiliki karakteristik yang berbeda. Penjajahan mental sifatnya tidak kasat mata. Penjajah tidak harus menduduki wilayah jajahannya, sebab tanpa itu pun masyarakat yang dijajah telah takluk dan tunduk terhadap kemauan penjajah. Melalui berbagai macam trik, mulai dari akal bulus yang halus, ancaman yang menyeramkan, sampai dengan serangan yang vulgar, penjajah dapat memperoleh ketaatan dari wilayah yang dijajahnya. Tanpa tersadari wilayah yang dijajah tersebut menjelma menjadi budak di bawah kekuasaan penjajahan mental. Nasib rakyat Negara Dunia Ketiga bagaikan 'sudah jatuh, tertimpa tangga pula' dalam genangan neokolonialisme-imperialisme (nekolim) kapitalisme global.

Sistem kapitalisme beroperasi sebagai tangan-tangan tak kelihatan yang mengendalikan jalannya negara seperti seorang dalang menggerakkan wayangnya atau penjajah yang mengendalikan jajahannya. Seperti yang ditengarai oleh Samir Amin, imperialisme bukan merupakan tahap apalagi tahap tertinggi dari kapitalisme. Sejak awal ia inheren dalam ekspansi kapitalisme itu sendiri.

Diperlukan suatu terobosan untuk mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat, rakyat yang sesungguhnya. Tanpa itu sejatinya rakyat tidak merdeka.

|

last entrynext entry


happiness is a warm gun