11 oktober 2006 // 5:54 p.m.
aaaaahhhh.... setelah keterpurukan yang melarut-larut, tulisan berikutt...
ga tau seperti apa
korban # 14: relasi interpersonal
Telepon Seluler
Oleh:Nadya Karimasari
Abstrak
Telepon seluler menjadi benda yang meningkat popularitasnya di kalangan masyarakat Indonesia. Sebagaimana perangkat teknologi lainnya, manfaat telepon seluler memiliki wajah ganda: membebaskan, sekaligus membatasi. Sosial, sekaligus alienatif. Dengan iming-iming keleluasaan mobilitas sekaligus kemudahan berinteraksi, telepon seluler menjelma sebagai kebutuhan massal dalam lingkup kehidupan modern – di mana ruang dan waktu menjadi faktor determinan dalam aktivitas sehari-hari. Sebagai piranti untuk berhubungan dengan manusia lain, telepon seluler yang mengusung sifat anonimitas membuat batas antara hubungan yang bersifat real dan virtual menjadi mengabur dan sulit dibedakan, demikian pula aksi dan reaksi yang diperantarai olehnya. Fungsi telepon seluler tak sekedar sebagai alat komunikasi, melainkan dapat pula diinterpretasikan sebagai simbol status dan gengsi sang pemilik, bahkan sampai pada taraf kemelekatan tak terpisahkan dalam kehidupan personal sehingga mengakibatkan keterlibatan secara emosional. Penggunaan telepon seluler yang semakin marak menimbulkan perubahan dalam relasi sosial maupun ritual kultural, juga berpengaruh terhadap perilaku dan persepsi individual.“Aku tidak merasa sedih meninggalkan dunia ini. Mereka bukan milikku. Dan aku bukan milik mereka. Kami membutuhkan secara fungsional saja .” (Hudan Hidayat dalam cerpen ‘Bunuh Diri: untuk sutardji calzoum bachri’, garis bawah dari penulis).
Seorang teman yang baru pulang dari Norwegia melaporkan bahwa di sana aktivitas yang menggunakan telepon seluler sangat jarang dijumpai di ruang publik. Benda yang satu itu bahkan diperlakukan nyaris seperti rokok: terdapat tanda-tanda yang menyatakan ‘mobile phones prohibited’ (‘telepon seluler dilarang’) dan ada ruang-ruang khusus di mana pemakaian telepon seluler diperbolehkan. Sebelum menggunakan telepon seluler, meminta izin kepada teman yang sedang berada bersama kita merupakan bagian dari asas sopan santun yang ditaati. Ketika ditanya mengapa, seorang warga mengatakan dampak telepon seluler bersifat polutif. Masyarakat sebagai pihak yang tidak berurusan dan tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan personal tersebut tidak ingin ruang publiknya tercemar oleh suara-suara dan ekspresi-ekspresi yang tidak dikehendaki. Sebagai perbandingan, ia mengatakan,”seperti halnya masyarakat menolak menjadi perokok pasif.” Lagipula, sebagai bangsa dalam negara yang hidupnya relatif teratur, telepon seluler tidak terlalu diperlukan. Semua agenda sudah tercatat, keinginan bercakap-cakap dapat ditentukan lewat sebuah perjanjian sebelumnya sehingga mereka bisa bertemu dan ngobrol secara langsung, seperlunya. Telepon seluler hanya berdering jika ada hal-hal yang sangat mendadak dan penting, dan hal-hal semacam itu jarang terjadi. “Kami kan warga sipil, bukan polisi”, demikian ia mengakhiri penjelasannya.
Hal yang berbeda ditemukan di Indonesia. Dengan mudah kita dapat menyaksikan penggunaan telepon seluler di mana-mana. Perilaku-perilaku yang melibatkan telepon seluler menjadi pemandangan yang biasa, sehingga terkadang teman-teman di sekelilingnya seperti sedang dicuekin, dianggap tak ada. Sebagai ilustrasi menarik, sekelompok mahasiswa yang tinggal dalam satu rumah kos mengawali harinya dengan gerakan yang sama dan serentak: mengecek telepon seluler. Entah mematikan alarm, melihat jam, mengharap ada sms atau missed call yang masuk, atau sekedar karena tubuh mereka sudah terotomatisasi dengan gerakan tersebut. Sepanjang hari, kecuali saat sedang beribadah atau di kamar mandi, telepon seluler selalu ada dekat jangkauan, tak mau meninggalkannya lama-lama, seolah dalam status ‘siaga’, harus selalu siap untuk menerima kabar berita apapun, kapanpun, di manapun, dari siapapun, dan tanpa itu ada sesuatu yang dirasa kurang. Tak heran, terkadang masalah-masalah yang berkaitan dengan telepon seluler membuat mereka uring-uringan. Sampai-sampai, perlu berhutang untuk membeli pulsa, bahkan berkata, “aku tidak bisa hidup tanpa pulsa”, sebuah pernyataan yang menimbulkan pertanyaan: apakah ini karena kultur masyarakat Indonesia yang sangat gemar bersosialisasi, atau sebentuk tindakan konsumtif yang inefisien? Bisa jadi benar penyataan seorang cendekiawan, mengingat betapa kalang-kabutnya dunia masyarakat Indonesia yang diramaikan oleh keberadaan telepon seluler (maksudnya, betapa perubahan perilaku tersebut tampak mencolok, terutama di kota-kota besar), bahwa bangsa kita adalah bangsa yang suka membesar-besarkan masalah-masalah remeh, dan meremehkan masalah-masalah besar. Bisa juga perubahan perilaku tersebut hanyalah ‘efek samping’ dari transisi menuju ‘modernitas’ /’korban’ dari ‘globalisasi’ (time-space compression, menurut Anthony Giddens), di mana keinginan untuk menyiasati persoalan jarak dan waktu dianggap sebagai prioritas, sehingga piranti komunikasi menjadi sangat vital dalam mengatur irama kehidupan sehari-hari.
Secara teoritis, telepon seluler menjadikan penggunanya sebagai ‘diri virtual’ walaupun dampak telepon seluler dirasakan sangat dalam kehidupan sang pengguna. Sebagaimana yang dikemukakan Agger:
“The virtual self is connected to the world by information technologies that invade not only the home and office but the psyche. This can either trap or liberate people… By virtual self, I am referring to the person connected to the world and to others through electronic means such as the Internet, television and cell phones… [These] technologies get inside our heads, position our bodies and dictate our everyday lives. (Agger 2004:1, dikutip dari www.fastcapitalism.org)
Selain dimensi virtualitas, telepon seluler juga mengandung dimensi anonimitas. Hal ini dimungkinkan karena ‘diri’ kemanusiaan direpresentasikan melalui simbol ‘nomor telepon’ berupa figur angka-angka yang berderet. Nomor tersebut dapat diubah-ubah sehingga tidak dikenali, terkadang sukar terlacak, bahkan terkadang ada telepon seluler yang memiliki fasilitas hide id sehingga nomor penelepon tidak bisa diketahui.
‘Identitas’ menjadi sangat cair tak bisa dipegang, dapat diubah-ubah ataupun dipalsukan tanpa harus mempertanggungjawabkan apa-apa. Keadaan hampir ‘tanpa resiko’ ini dapat mendorong terjadinya ‘eksperimentasi’ dalam representasi ‘diri’, salah satu contohnya adalah dalam hal ‘pengekspresian diri’. Ambil misal, seseorang yang dalam interaksi tatap muka sehari-hari bersifat sangat pasif dan pendiam, ternyata ketika berhubungan melalui telepon seluler (entah telepon maupun sms) berubah menjadi penyampai pesan yang aktif, bahkan mengumbar ungkapan-ungkapan yang berbunga-bunga. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang melalui telepon seluler terkesan sangat ‘dingin’ dan hambar karena penyampaian pesan yang singkat dan padat, ternyata dijumpai sebagai orang yang sangat cerewet, ekspresif, dan ramah. Sulit untuk menerka yang manakah ‘diri-nya yang sesungguhnya’, karena bisa jadi individu-individu tersebut sedang melakukan apa yang tadi disebut ‘eksperimentasi’ terhadap bagaimana diri mereka ingin ‘tampil’/ ‘ditampilkan’.
Hubungan yang terjadi pun bersifat impersonal. Di balik proses sosialisasi, terjadi proses individualisasi, bahkan alienasi. Terkadang seseorang menjadi terasing dalam relasi tatap muka sehari-harinya karena sibuk berinteraksi melalui telepon seluler. Tanpa perlu saling mengenal pribadi/kepribadian masing-masing, individu-individu semakin dimudahkan untuk berhubungan sebatas hal-hal fungsional, dengan kata lain sesuai kebutuhan saja. Daftar nomor telepon yang memenuhi phonebook menunjukkan jaringan-jaringan yang membuat mereka saling terhubung, walaupun tanpa interaksi interpersonal. Di sisi lain, adanya jaringan (network) itu jualah yang memperluas pergaulan individu-individu menembus sekat-sekat jarak. Hubungan yang tadinya tidak dimungkinkan sebelum adanya teknologi, menjadi mungkin. Tak jarang pula relasi-relasi personal yang emosional menjadi terbangun melaluinya. Entah bisa dibilang ‘nyata’ atau tidak. Di sinilah, seperti kata Baudrillard, realitas kembali menunjukkan segi-segi ‘simulasi’-nya.
Tak dapat dihindari, bagi sebagian orang telepon seluler menjadi bagian dari identitasnya yang tak boleh terpisahkan, sebab telepon seluler juga mengandung makna simbolik yang menyatakan ‘siapa Anda’ dalam strata sosial dan seberapa besar tingkat ‘keberdayaan Anda secara ekonomi’. Yang patut disayangkan adalah apabila perangkat yang mengabsurdkan antara yang real dan virtual tersebut mengakibatkan kecanduan atau ketergantungan bagi penggunanya. “There has been growing evidence of an increased dependency on mobiles—not just in practical terms, but in an emotional sense.” (Michael Hulme cited in "Downtime" by Mark Lewis in Computer Weekly, May 20, 2003 http://www.computerweekly.com/ ) Hal tersebut tidak sehat, apalagi jika sebuah benda sampai menjadi sebuah kemelekatan seolah-olah sebuah organ tubuh baru yang dicangkokkan dan manusia tidak bisa hidup tanpanya.
Disadari atau tidak, selain berfungsi sebagai alat komunikasi, telepon seluler juga menjadi alat kontrol untuk senantiasa mengetahui keberadaan pengguna. Tak jarang, pengguna justru merasa terpenjara oleh telepon seluler tersebut, tidak bisa menghindar dari segala panggilan, tak ada waktu luang, kehilangan privasi dan waktu beristirahat. Dalam usahanya menjadi subjek yang mengontrol relasi sosial, ternyata di sisi lain manusia juga harus siap menjadi objek yang dikontrol. Selalu ada dua sisi dari keping mata uang yang sama. Selalu ada konsekuensi di ujung ‘kebebasan’.
Telepon seluler, seperti teknologi lainnya, mencuatkan pertanyaan mengenai ‘otonomi manusia’ terhadap hal di luarnya. Paradoksnya, mematikan telepon seluler dapat menjadi solusi, tapi kemudian, untuk apa memiliki telepon seluler?







